Sunday, January 8, 2012

Kami Punya Cerita #2

Pameran & slideshow foto karya kelas foto cerita tobucil angkatan II

Sabtu, 29 Oktober 2011

Pk. 16.00 - 18.00 WIB


menampilkan karya :
Dhika Pranastyasih
Rudy Rinaldi
Claudine Patricia
Palupi Sri Kinkin
Annisa Alhamdani
Desiyanti Wirabrata
Keni K.Soeriaatmadja

Jumpa lagi di Kami Punya Cerita #2


Tidak terasa kelas foto cerita angkatan kedua sudah usai. Tujuh orang peserta kelas foto cerita akan menyajikan cerita yang sederhana, ringan namun menarik. Cerita yang dianggap sepele dan cerita keseharian yang seringkali terlewatkan.

Ada banyak cerita yang akan dipamerkan. Salah satunya cerita tentang perajut dan benangnya, cerita tentang tukang balon dan juga cerita tentang kucing kesayangan.

Fotografi menjadi cara kami menyampaikan cerita. Di kelas ini kami belajar melihat bukan dengan kamera baru melainkan mata baru. Melihat segala sesuatu dengan lebih jeli. Memotret hal hal kecil menjadi sesuatu yang berarti.

Kamera hanyalah alat, kamera sesungguhnya ada pada mata dan hati kami. Kami tidak peduli dengan jenis kamera dan lensa yang kami pakai. Kami hanya ingin berkarya dan berbagi cerita.

Kumpulan cerita sudah siap untuk dibagi. Silahkan datang dan menikmati cerita kami


Sampai jumpa di Kami Punya Cerita #2

Salam
Arum Tresnaningtyas Dayuputri
pecinta fotografi yang kebetulan mengajar Kelas Foto Cerita Tobucil

Tandem Lewat Film

Karya Yunita Peserta Kelas Penulisan Feature Angkatan I

Di Kota Metropolitan, 44 tahun lalu, seorang bocah lelaki menatap tak berkedip pada spanduk film James Bond: Casino Royal  (1967), yang terpampang di Bioskop Megaria. Sebagai anak SD, tentu saja ibu melarangnya menonton bioskop, “Buang-buang uang saja”, katanya. Tiket bioskop terlalu mahal dibandingkan uang jajan seorang anak SD. 

Tak habis akal, Ronny kecil memberikan uang jajannya ke petugas proyektor. Ia bisa menonton film dari lubang intip di ruang proyektor bioskop. Pengalaman menonton itu, membuatnya ketagihan. Apalagi, hampir setiap hari ia terekspos oleh spanduk-spanduk film yang menarik. Maklum neneknya pemilik restoran di sebelah bioskop tersebut. Kalau uang jajannya tidak cukup, ia akan mengajak teman sekolahnya, untuk patungan membayar petugas proyektor, lalu berebutan menonton dari satu lubang. 

Masa SMP, film Samson and Delilah sedang diputar, tapi sebagai anak sulung, dengan  lima orang adik kecil, Ronny masih juga dilarang menonton oleh ibunya. Alasan sang ibu, “Film bisa balik lagi suatu hari nanti”. Kata-kata itu, menjadi inspirasi hidup Ronny, di kemudian hari. Beruntung, ketika memasuki masa SMU, ada tantenya kerap memutar film dan musik di piringan hitam di rumah sang nenek. Terkadang, ada para oom yang mengajaknya menonton film kungfu. 

Ketika kuliah di Arsitektur, Unpar Bandung, barulah uang jajannya cukup lumayan untuk membeli tiket bioskop. Waktu itu, sedang jamannya genre science-fiction, seperti Star Trek (1979). Setiap ada waktu luang, bahkan setiap kali berpacaran, ia selalu mendatangi Bioskop President, di Jl. Braga. 

Lulus kuliah, Ronny P. Tjandra, nama lengkapnya, menjadi dosen arsitektur Unpar dan berkesempatan belajar di Jepang. Di sana ia menemukan sesama penggemar film, Mr. Takako. Ronny sering diajak menonton bioskop di bawah rel kereta. Film pertama yang ditontonnya adalah film Perancis: Delicatessen (1991). Film humor berbahasa Perancis, dengan teks bahasa Jepang. Walhasil, dia tidak mengerti sama sekali cerita film itu. Berikutnya, ia diajak menonton film Field of Dreams (1989).Tapi film yang sangat berkesan, bahkan harus melintasi 3 kota (Kobe – Tokyo – Osaka) untuk menontonnya adalah Farewell, My Concubine (1993). Film ini berhasil membuatnya berseru dalam hati, “Wuahhh, ini baru film!” 

Read More

Sampah, dibuang sayang

Karya Jessisca, Peserta Kelas Penulisan Feature Angkatan I

Amphitheatre Selasar Sunaryo, Rabu malam 13 Juli 2011, penuh dengan sampah. Plat nomor kendaraan bermotor bekas, piring styrofoam, pipa paralon, kaleng bola tenis, botol bekas shampoo dan banyak lagi. Bukannya teronggok seperti tumpukan di tempat sampah, tapi malah menjadi bunyi-bunyian yang menghibur. 

Sampah-sampah itu dirangkai menjadi beragam alat musik. Ada alat musik gesek, tiup dan pukul dengan bentuk-bentuk yang tidak seperti alat musik yang biasa dimainkan. Perangkai alat-alat musik berbahan sampah itu adalah anak-anak. Tiga hari sebelumnya mereka melakukan workshop dalam rangkaian acara Selasar Kids Program bertajuk Bunyi Barang Bekas.

Pemateri workshop itu bernama Dodong Kodir. Seorang pensiunan pegawai Sekolah Tinggi Seni Indonesia yang sudah lebih dari dua puluh tahun membuat seratusan alat musik berbahan sampah. “Tujuannya supaya anak-anak mencintai lingkungan. Dengan media limbah kita memberi tahu bahwa limbah sebelum dibuang bisa dimanfaatkan kembali jadi alat musik.”

Tabung bekas mesin cuci diubah menjadi kecapi oleh lelaki kelahiran Manonjaya 8 November 60 tahun yang lalu itu. Galon air minum bekas kontrakan mahasiswa ditambah karet helm yang dijadikan dawai, bisa berfungsi menjadi bass. Namanya bassdong. Kaleng susu bekas digabung dengan bekas jendela dan diberi senar menjadi bunyi angin saat digesek.

“Limbah bisa meniru alam dan mengajarkan kita untuk menjaga lingkungan”ujarnya. Beberapa karyanya merupakan reaksi dari terjadinya bencana alam. Tsunami di Aceh tahun 2004 menghasilkan karyanya yang diberi nama sagara. Terbuat dari bekas jam dinding, dalamnya diberi pelor sepeda. Saat digoyangkan kita serasa berada di pantai, karena suaranya seperti gemuruh ombak. 

Tornadong dibuat karena melihat tornado di Amerika. Terbuat dari labu yang sudah jarang ditemukan, bahasa sundanya waluh kukuk, fiberglass dan per. Jika diguncang akan terdengar suara gemuruh geluduk. Labunya melambangkan awan hitam, sedangkan per nya melambangkan petir. 

“Belajar jangan main-main, dan hargai hasil karya sendiri,” pesannya saat ditemui di kediamannya setelah pembukaan pameran di Japan Foundation Jakarta. “Hargai ide orang lain sekecil apapun,” tambah pria yang memilih tidak mengambil barang rakitannya dari tempat sampah supaya tidak mengambil rejeki pemulung ini. nya. 

 “Abah tiasa keliling ka mana-mana numpak runtah.” (Abah, panggilan Dodong, bisa keliling ke mana-mana naik sampah). Mulai dari tahun 1989 pergi ke Amerika untuk misi kesenian. Tahun 1996 ke Kopenhagen, Denmark untuk acara Containers 96:art across oceans bersama pelukis Herry Dim. Di tahun yang sama juga pergi ke Tokyo, Jepang untuk Kolaborasi Teater Musikal Jepang-Indonesia-Filipina. Sempat juga berpartisipasi dalam acara La Flute Enchantee, kolaborasi untuk peringatan 100 tahun karyanya Wolfgang Amadeus Mozart, di Paris Prancis tahun 2006.

Read More

Laguna di Ujung Pulau Sempu

Karya Nia Janiar Peserta Kelas Penulisan Feature Tobucil & Klabs Angkatan I

Dari kota Malang menuju Pelabuhan Sendang Biru, jaraknya berkisar 70 kilometer atau sekitar dua sampai tiga jam perjalanan. Agar memudahkan, kami memesan angkutan umum agar bisa langsung ke pelabuhan. Jalanan dari Malang ke Pelabuhan Sendang Biru cukup membuat mual karena selain jalanan yang berkelok, tekstur aspalnya pun bergelombang sehingga menimbulkan sensasi tidak enak perut jika mobil dibawakan dengan cepat. 

Di pelabuhan Sendang Biru, banyak kapal nelayan yang disewakan untuk menyebrang dari Pelabuhan Sendang Biru ke Teluk Semut yang berada di Pulau Sempu. Tarifnya beragam berkisar Rp75.000,00 hingga Rp100.000,00 per kapal. Waktu yang diperlukan sekitar 10-15 menit untuk mencapai bibir pantai Pulau Sempu. Perahu tidak bisa berlabuh di Teluk Semut sehingga pengunjung akan diturunkan di pesisir dan berjalan kaki menuju daratan. 

Pertama memasuki pulau yang dijadikan cagar alam ini, kami sempat bingung dengan awal masuk jalan setapak. Di sana sana tidak ada petunjuk jalan, hanya ada kantung plastik yang dikaitkan di ranting sebagai tanda jalan yang harus ditempuh. Kami harus mengikuti jalan utama atau jalan setapak yang terlihat besar dan diinjak banyak orang. Agar tidak tersesat, kami tidak mengambil jalan kecil atau membuat jalan sendiri.

Selama perjalanan, terlihat beberapa bangkai sandal yang berserakkan. Mayoritas seperti sandal jepit, sandal atau sepatu casual, bahkan sandal gunung. Salah satu teman saya yang memakai sandal jepit pun terlihat kesulitan karena berkali-kali terpeleset. Kontur tanah yang liat dan licin membuat siapapun yang akan pergi ke Segara Anakan disarankan menggunakan sepatu trekking untuk memudahkan.

Perjalanan terbayar ketika mulai terlihat hamparan pasir putih dan air laut yang tenang yang membentuk sebuah danau. Segara Anakan dibatasi oleh karang yang tinggi dan kokoh yang terdapat sebuah lubang ditengah-tengahnya. Dari lubang situ, air dari Samudra Hindia masuk ke dalam cerukan di daratan, membentuk laguna Segara Anakan yang mengingatkan pada film The Beach yang dibintangi Leonardo Di Caprio.

Read More

Saturday, January 7, 2012
Kelas Foto Cerita I: My Little Corner of The World karya Tarlen Handayani, a set on Flickr.welcome to my little corner of the world.
My Little Corner of The World karya Tarlen HandayaniMy Little Corner of The World karya Tarlen HandayaniMy Little Corner of The World karya Tarlen HandayaniMy Little Corner of The World karya Tarlen Handayani

Kelas Foto Cerita I: My Little Corner of The World karya Tarlen Handayani, a set on Flickr.

welcome to my little corner of the world.